Rabu, 30 Mei 2012

LATAR BELAKANG PERANG DUNIA 1


Latar Belakang Perang Dunia 1
            Perang Dunia 1 bermula di Eropa pada tahun 1914. Amerika Serikat pada mulanya tidak ikut serta dalam perang Dunia 1, meski merasa memiliki hak netral untuk tidak berpihak pada sisi manapun. Meskipun demikian, kedua blok dalam perang tersebut yakni Triple Entente (Blok Sekutu) dan Triple Aliansi (Blok AS) berusaha untuk mempengaruhi Amerika Serikat supaya masuk dalam Bloknya. Pada tanggal 4 Agustus 1914, ketika perang berkobar Presiden Wilson mengumumkan netralitas Amerika Serikat dalam perang itu. Sebagai Negara netral, Amerika Serikat mempunyai hak untuk bersikap yang secara historis dan meyakinkan berada di bawah naungan hukum internasional melalui kegiatan sebagai berikut :
1.      Amerika Serikat sebagai Negara netral dapat melakukan kegiatan menjual barang-barang senjata dan peralatan mesin perang yang lainnya dengan Negara yang sedang berperang. Sementara itu pihak Negara yang sedang berperang dapat menekan perdagangan ini dengan saling blockade untuk menghentikan iringan kapal yang membawa barang-barang tersebut, namun blockade harus efektif yakni dengan sejumlah kapal perang untuk patroli.
2.      Jika kapal dagang dari Negara netral atau musuh berlayar dan tertangkap, maka boleh dimiliki dan diambil alih dalam keadaan tertentu, namun tidak boleh ditenggelamkan sehingga membahayakan keamanan awak dan penumpangnya dibawah hukum itu dan kebijakan Amerika Serikat, hal ini menjadi tugas bagi Presiden Woodrow Wilson dalam perdagangan sebagai Negara netral.
3.      Ia juga harus menghadapi keluhan tentang kekerasan terhadap Negara netral dari Negara-negara yang berperang.
            Pemicu Perang Dunia 1 terkait terbunuhnya seorang pewaris tahta Austria-Hongaria yang bernama Pangeran Franz Ferdinand oleh seorang mahasiswa Serbia bernama Gavrilo Princip pada 28 Juni 1914. Meskipun dipicu pembunuhan ini namun ada latar belakang yang lebih realistic mengenai sebab-sebab meletusnya Perang Dunia 1 yakni terkait dengan terbentuknya Aliansi dan counterbalances yang berkembang antara kekuasaan di Eropa selama abad ke-19, sejak kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo tahun 1815 yang menyebabkan terjadinya “terangkatnya” kekuasaan Napoleon Bonaparte di Negara-negara Eropa yang pada gilirannya sebagai akibat langsung adanya Revolusi Perancis (1789) yang menggulinggkan Monarki Perancis.
2.2 Keadaan Ekonomi Amerika Serikat setelah perang Dunia 1
a) Krisis Ekonomi
            Ekonomi Amerika Serikat Pascaperang kembali tidak normal, akibatnya pekerja menjadi tidak puas dengan meningkatnya biaya hidup, jam kerja menjadi panjang, dan manajemen yang tidak punya rasa simpati. Tahun 1919, lebih dari 4 juta jiwa pekerja mengadakan aksi mogok. Pada tahun 1920 telah diadakan pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Partai Republik Warren G.Harding. kemudian pada waktu itu untuk menjaga kemakmuran yang ada dibuatlah kebijakan pemerintah yang sangat konservatif. Hal ini diyakini bahwa akan dapat membesarkan usaha swasta yang pada akhirnya mampu membesarkan usaha swasta dan meningkatkan kemakmuran.   Ledakan ekonomi yang terjadi seusai Perang Dunia 1 berupa aliran keuangan yang hancur secara dramatis dan banyak negara meninggalkan sistem gold standard untuk menggantinya dengan sistem floating currencies.
            Pada tahun 1920-an, setelah perang usai, terdapat usaha untuk mengembalika sistem gold standards. Sistem ini mampu menciptakan kondisi yang sangat menguntungkan bagi dunia industry di Amerika. Sepanjang tahun 1920, usaha swasta menerima dorongan yang substansial, termasuk pinjaman pembangunan, kontrak perantara yang menguntungkan, dan tunjangan langsung lainnya. Begitu juga kebijakan partai Republik di bidang pertanian mendapatkan kecaman besar karena para petani hanya mendapatkan sedikit kemakmuran bagi pertanian dan naiknya harga hasil pertanian. Hal ini disebabkan adanya permintaan akan produk pertanian Amerika yang tak terduga pada masa perang. Kemakmuran ini mendorong kuat para petani untuk berproduksi.
             Tetapi pada akhir 1920, permintaan masa perang yang berhenti mendadak, harga hasil pokok pertanian merosot tajam, hilangnya pasar luar negeri. Dengan begitu petani Amerika sulit menjual produk mereka di tempat yang Amerika tidak melakukan pembelian barang karena kebijakan tarif impornya sendiri. Perlahan-lahan pintu pasar dunia tertutup. Ketika terjadi depresi hebat (1930-an), harga hasil pertanian yang sudah lemah menjadi hancur.
            Undang-undang pajak tahun 1922 dan 1930 menjadikan nilai pajak masuk ke angka tertinggi. Yang kedua dari undang-undang Smooth-Hawley tahun 1930, menetapkan pungutan yang tinggi sehingga lebih dari 1000 pakar ekonomi meminta Presiden Herbert Hoover memvetonya. Depresi ekonomi 1929 ini dipicu  oleh jatuhnya bursa saham NYSE pada bulan oktober 1929 akibat ledakan spekulatif yang disebut Economic buble (gelembung Ekonomi). Kenaikan harga saham mengakibatkan terjadinya penjualan saham secara besar-besaran yang menyebabkan pasar saham runtuh dan indeks harga saham turun drastis. Instabilitas akibat depresi ini menghancurkan kondisi perekonomian Amerikia Serikat. Bahkan pengangguran semakin meningkat akibat ketidakmampuan pasar menyerap tenaga kerja dan daya beli masyarakat semakin menurun.
            Keadaan Sosial Ekonomi Amerika Serikat PraKrisis 1929, mengalami stagnansi dunia industri pada akhir tahun 1925, Kelebihan produksi di industri automobil pada tahun 1928. Kemudiaan peningkatan tingkat suku bunga dari 4,06% per tahun menjadi 7,6% per tahun pada tahun 1927. Hal ini disebabkan besarnya angka pembelian secara kredit yang tidak dibayarkan secara lancar dan juga besarnya modal milik orang-orang Amerika yang diinvestasikan di luar negeri.
            Peningkatan pola konsumsi masyarakat tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan, sementara masyarakat semakin banyak membeli barang-barang sekunder dengan sistem kredit. Akibatnya, kelebihan produksi yang kemudian membuat banyak barang tidak laku di pasaran. Hingga perekonomian Amerika Serikat pun memburuk dan mencapai puncak  pada saat jatuhnya nilai saham di Wallstreet pada tahun 1929.
            Pemerintah Amerika turut andil menjadi penyebab terjadinya krisis ekonomi 1929. Salah satunya adalah kebijakan proteksionisme (kebijakan melakukan perlindungan terhadap barang-barang produksi dalam negeri). Dalam kebijakan tersebut diberlakukan pajak yang sangat tinggi atas barang-barang import. Hal ini menimbulkan reaksi dari negara-negara lain yang kemudian turut menaikkan pajak yang tinggi atas barang-barang hasil produksi Amerika.
            Pihak bank nasional berusaha keras mengatasi krisis tersebut. Usaha yang dilakukan adalah dengan membeli saham-saham yang dijual tersebut dengan menggunakan cadangan uang bank yang merupakan dana masyarakat. Usaha tersebut tidak berjalan mulus karena ternyata sebagian besar nasabah menarik dana mereka dari bank sehingga bank pun tidak memiliki cadangan dana untuk menanggulangi krisis yang telah membuat perekonomian Amerika memburuk.
            Tepatnya pada hari Kamis, 24 Oktober 1929, nilai saham di Wall Street menurun drastis, yang mengakibatkan terjadinya “krach de Wall Street”. Pada hari tersebut, nilai saham di Wall Street sedang dalam keadaan yang tinggi sehingga banyak orang yang menjual sahamnya secara bersamaan. Terjadi 13 juta aksi penjualan saham secara bersamaan yang mengakibatkan jatuhnya harga saham.
            Krisis kelebihan produksi secara umum. Dalam bidang pertanian, krisis ini terlihat sebelum tahun 1929 dengan jatuhnya harga sejak tahun 1925-1926 di semua negara. Di bidang industri, krisis ini terjadi karena batas waktu pembayaran yang ditangguhkan pada tahun 1929 dengan alasan:
1. Bertumpu pada metode yang beraneka ragam yang dilakukan untuk menstimulasi konsumsi, terutama dengan penjualan kredit (Amerika Serikat).
2. Kebutuhan-kebutuhan yang dipenuhi masih tetap penting (kasus negara lain).  Namun suatu hari penawaran dari Amerika melebihi tingkat permintaan di wilayah Eropa padahal perekonomian Eropa sedang hancur karena perang.
            Dalam 18 bulan pertama 1929-1932, banyak bank kecil dan menengah yang bangkrut, sedangkan bank berskala besar tidak mengalami kebangkrutan. Politik moneter Amerika pada dasarnya membuat pertahanan akan mata uangnya sangat kuat dengan peredaran yang terbatas sehingga menghasilkan kestabilan harga, jumlah ekspor, dan lancarnya pengurasan cadangan emas dunia oleh AS. Pada tahun 1928, terjadi kekurangan kebutuhan atas mata uang sehingga masyarakat beralih ke kredit yang segera melampaui batas dan menimbulkan kejatuhan saham  dan 40 % nilai saham hilang. Bahkan setelah runtuhnya pasar saham, politikus dan pemimpin industry terus mengeluarkan prediksi optimis bagi perekonomian Negara. sampai tahun 1933 saham di Bursa Efek New York nilainya kurang dari 1/5 yang pernah tercapai pada puncaknya di tahun 1929. Akibatnya pabrik bangkrut bahkan tutup dan bank gagal berdiri sehingga menimbulkan pengangguran.
            Tahun 1930-an terjadi krisis keuangan yang memicu runtuhnya sistem pinjaman dan gold standard. Selanjutnya , AS menggantikan Inggris sebagai kreditor bagi perekonomian dunia, dan kala itu dolar AS menjadi mata uang ternkuat dan terpercaya di dunia internasional. Selanjutnya  Penggunaan teknologi modern dan juga dukungan pemerintah yang kuat di sektor tersebut, dan tatanan sosial dan ekonomi yang baik di masyarakat menjadi faktor pendukung kejayaan Amerika Serikat.
            Industri Amerika pun mengalami kemajuan yang pesat bahkan 44% produksi batu bara dunia dikuasai oleh Amerika Serikat. Dengan kemapanan ekonominya Amerika Serikat mampu memberikan bantuan ekonomi kepada Eropa untuk bangkit kembali dari keterpurukannya pasca perang. Gaya hidup masyarakat yang menggemari sistem kredit, menginvestasi uang mereka dengan membeli saham dan pola hidup konsumtif pun menunjukkan kemakmuran negaranya.
            Dapat dikatakan Depresi besar atau Great Depression merupakan suatu peristiwa kemerosoton atau depresi ekonomi terparah yang khususnya melanda Amerika, namun juga berpengaruh pada negara-negara lain di berbagai penjuru dunia. Peristiwa ini terjadi di tahun 1929 hingga awal 1940, yang mana disebabkan karena:
1.      Jatuhnya Bursa Saham (Stock Market Crash) di tahun 1929
                        Jatuhnya bursa saham pada bulan Oktober 1929 di Amerika atau yang lebih sering disebut  Black Tuesday disinyalir sebagai penyebab utama dari Great Depression. Peristiwa ini menyebabkan hampir seluruh pemegang saham mengalami kerugian yang ditaksir lebih dari empat milyar dolar Amerika. Pemerintah Amerika berusaha mengatasi dampak dari jatuhnya bursa saham dengan memaksa sebagian besar bank untuk tutup, akibatnya terjadi kepanikan yangefeknya tidak hanya dialami oleh penduduk Amerika melainkan sudah lintas negara. Kepanikanini membuat masyarakat yang khawatir simpanan mereka di bank hilang berbondong-bondongmendatangi bank yang masih buka untuk dapat menarik uang simpanan mereka. Hal ini secaracepat berimbas pada terjadinya kebankrutan di sejumlah bank, dan terjadinya Great Depression diakhir 1930 tidak dapat terelakkan lagi.
2.      Kegagalan bank (bank failures)
                        Sepanjang tahun 1930 setelah terjadinya stock market crash jumlah bank di Amerika danEropa yang lumpuh dan mengalami kebangkrutan semakin bertambah hingga mencapai 9000 bank. Pemerintah tidak lagi mampu memberikan jaminan terhadap simpanan yang terisisa,akibatnya bank dalam keadaan uninsured dan tidak lagi dapat memberikan pinjaman baginasabah. Keadaan ini semakin memperburuk situasi karena mayoritas masyarakat kehilanganuangnya, dan sehingga kesulitan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh negara melainkan sudah berdampak pada masyarakat luas.
3.      Menurunnya daya beli masyarakat (Reduction in Purchasing)
                        Adanya stock market crash dan hilangnya simpanan masyarakat di bank menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan bahkan masyarakat tidak mampu membeli barang. Inimenyebabkan perusahaan harus berhenti melakukan produksi, dan akibatnya para pekerja pundiberhentikan sehingga angka pengangguran ketika itu naik hingga 25%. Ini menyebabkan roda perekonomian tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, dan keadaan depresi ekonomi pun semakin parah.
b) Masa Presiden Franklin
            Franklin Delano Roosevelt adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-32 dan merupakan satu-satunya Presiden Amerika yang terpilih empat kali dalam masa jabatan dari tahun 1933 hingga 1945. Pada itu Amerika mengalami puncak masa depresi lebih dari 13 juta rakyat Amerika tidak mempunyai pekerjaan, dan susunan perbankan tidak beraturan. Franklin D. Roosevelt memberikan harapan kepada rakyat Amerika dan berjanji akan mengambil tindakan tegas dan cepat. Salah satu pernyataannya yang terkenal pada amanat pelantikannya kepada bangsa Amerika adalah kebijakan New Deal yaitu ”Satu-satunya yang kita perlu takutkan hanyalah rasa takut itu sendiri”.
            Dalam pergertian lain New Deal merupakan perkenalan jenis reformasi sosial dan ekonomi yang sudah kenal lama di Eropa lebih dari satu generasi dan lebih jauh lagi New Deal mewakili puncak kecenderungan jangka panjang untuk meninggalkan kapitalisme laissez-faire (perekonomian tanpa campur tangan pemerintah) dan menginginkan peraturan reformasi dari Negara bagian maupun nasional yang diperkenalkan pada era progresif pemerintahan Theodore Roosevelt dan Woodrow Wilson (1880).
            Dalam pelaksanaannya New Deal adalah cepatnya peraturan-peraturan itu dibuat. Sebelumnya, peraturan yang dibuat dapat memakan waktu sampai beberapa generasi, banyak perubahan aturan dibuat terburu-buru dan pelaksaaannya lemah akibatnya beberapa peraturan malah saling bertentangan. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terputus atau terhenti, namun setelah diterapkan program New Deal mulai membangkitkan kembali kepercayaan dan minat masyarakat Amerika terhadap pemerintah. Dalam seratus hari pertama pemerintahan FDR mengusulkan rencana besar-besaran untuk:
1.      Menghidupkan kembali kegiatan perusahaan dan pertanian. Dengan cara mendirikan lembaga-lembaga baru di pemerintahaan yang menyediakan fasilitas kredit ringan untuk industri dan pertanian.
2.      Memberi bantuan kepada para penganggur dan kepada mereka yang terancam akan kehilangan ladang dan tempat tinggalnya. (lapangan pekerjaan untuk para pengangguran).
3.      Memperbaiki sistem perbankan dan kredit. Dengan langkah bank-bank ditutup terlebih dahulu dan dibuka kembali apabila telah membayar utang. Pemerintah mengunakan kebijakan inflasi mata uang yang moderat untuk mengawali gerakan peningkatan harga komoditas dan untuk membayar cicilan kepada para debitur.
            Pasca pemerintahan Roosevelt masa seratus hari pertama memegang jabatan, ia telah menunjukkan diri sebagai pemimpin negara yang cakap. Ia memperoleh dukungan rakyat yang unik dalam sejarah Amerika dalam melancarkan sebuah program percobaan yang bertujuan mencapai apa yang disebut sebagi sistem yang bersifat lebih sosial dan lebih demokratis.
            Program itu dikenal dengan nama "New Deal”. Pada 1936 di tahun pemilihan Presiden, revolusi damai dalam bidang ekonomi dan sosial yang dilancarkan oleh Presiden Roosevelt telah berhasil membawa perbaikan dan pembangunan kembali sebagian Amerika. Oleh karena itu ia dipilih kembali sebagai Presiden Amerika dengan jumlah suara yang besar.
            Selama jabatannya yang kedua, dari 1937 sampai 1940 Presiden Roosevelt menghadapi banyak kesukaran. Ia berbeda pendapat dengan Mahkamah Agung Amerika, perekonomian Amerika menderita kemunduran dan pada September 1939, perang pecah di Eropa dengan penyerbuan Jerman ke Polandia. Melalui perundang-undangan, Presiden Roosevelt berusaha untuk menghindarkan Amerika dari peperangan, tetapi di samping itu ia juga memperkuat negara-negara yang terancam atau diserang. Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor di Hawaii pada tanggal 8 Desember 1941, Presiden Roosevelt memimpin pengerahan tenaga rakyat serta sumber-sumber yang ada untuk menjalankan perang total. Sebelum Amerika Serikat, Churchill telah menyusun sebuah Deklarasi delapan pasal yang terkenal dengan nama Piagam Atlantik. Program ini dapat dikatakan sebagai program perdamaian antara lain:
1.      Hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri.
2.      Jaminan perdamaian serta bebas dari kemelaratan dan ketakutan.
Dua di antara empat kebebasan yang dicantumkan Presiden Roosevelt dalam amanat tahunannya kepada Kongres pada Januari 1941 Kemudian adanya bentuk kebebasan itu antara lain :
·         Kebebasan untuk menyatakan pendapat.
·         Kebebasan untuk beragama.
·         Kebebasan dari kemelaratan
·         Kebebasan dari ketakutan.
Karena merasa bahwa perdamaian dunia di masa datang akan tergantung pada hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, Presiden Roosevelt banyak mencurahkan pikirannya untuk mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana kesulitan

1 komentar: